KAB.CIREBON, (FC).- Masyarakat Desa Jatiseeng Kecamatan Ciledug Kabupaten Cirebon langsung menyerbu kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Cirebon, di halaman desa setempat, Selasa (5/8).
Analis Ketahanan Pangan Ahi Muda pada DKPP Kabupaten Cirebon, Eli Herlina menyampaikan, kegiatan GPM ini memang inisiasi dari DKPP Kabupaten Cirebon bekerjasama dengan Perum Bulog Cirebon dan juga beberapa vendor, dimana yang dijual merupakan bahan pokok penting (bapokting) dengan harga lebih murah sekitar Rp2000-3000 dari harga pasar.
Pelaksanaan GPM di Desa Jatiseeng ini juga atas undangan dari Pemdes setempat berkaitan dengan kegiatan Gebyar Posyandu Desa Jatiseeng, bapokting yang dijual dari beberapa komoditi, namun yang paling diserbu masyarakat adalah komoditi beras premium, dari harga pasaran Rp75 ribu per 5 kg dijual dengan harga Rp60 ribu, selain beras ada juga telor yang hanya sisa sedikit dalam beberapa jam saja.
“Alhamdulillah mendapat sambutan masyarakat, terbukti GPM dibuka pukul 08.00 WIB dalam beberapa menit beras yang dibawa Perum Bulog sebanyak 1 ton langsung habis,” terangnya.
Lanjut disampaikan Eli Herlina, selain beras, telor juga menjadi komoditas yang cepat habis. Eli menyebut, telur yang dibawa sebanyak 400 kilogram juga nyaris ludes. Ditambahkannya, bahwa GPM masih akan digelar di sejumlah titik lain di Kabupaten Cirebon.
“Kami punya 20 titik, dan sampai saat ini sudah dilaksanakan di 14 titik. Masih ada 6 titik lagi sampai Desember. Biasanya kegiatan seperti ini berdasarkan permintaan dari desa atau bisa juga kami arahkan ke wilayah rawan pangan, stunting, atau terdampak bencana,” jelasnya.
Sementara Kuwu Jatiseeng, Soemarno mengungkapkan, bahwa GPM kali ini merupakan penyertaan dalam kegiatan Gebyar Posyandu yang menjadi agenda utama desa.
“Gerakan pangan murah ini sebenarnya hanya penyertaan. Kita fokusnya adalah Gebyar Posyandu dalam rangka memperingati HUT ke-80 RI. Tapi karena ada penawaran dari DKPP, ya kami sambut baik dan langsung kolaborasi,” kata Soemarno.
Ia menambahkan bahwa kegiatan semacam ini sangat bermanfaat karena membantu meringankan beban masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
“Tujuannya adalah kita menyediakan pangan, terutama sembako, dengan harga yang lebih terjangkau agar masyarakat terbantu,” lanjutnya.
Soemarno juga menyebut bahwa kegiatan ini menyasar wilayah yang menjadi perhatian terkait kasus stunting.
“Kalau wilayah yang disisir bazar ini kan utamanya wilayah stunting. Kita masih cukup banyak stunting. Jadi acara ini sangat relevan,” ujar dia.
Melihat besarnya antusiasme dan manfaat langsung yang dirasakan masyarakat, Soemarno berharap agar GPM bisa dijadikan kegiatan rutin bulanan di desa. Namun, ia juga menyadari keterbatasan kuota program DKPP yang hanya menjangkau 20 titik dalam setahun.
“Kalau memang diperbolehkan, saya ingin kegiatan ini menjadi rutinitas setiap bulan. Tapi target DKPP sendiri terbatas. Jadi kalau mau rutin, kita harus punya inovasi, misalnya menyelenggarakan sendiri dengan menggandeng BUMDes dan koperasi yang ada di desa,” pungkas Kuwu Jatiseeng. (Nawawi)